Pilpres, Agama dan Perut yang Lapar oleh Rudi Gani

Pilpres, Agama dan Perut yang Lapar oleh Rudi Gani

0
0
BERBAGI

Pilpres, Agama dan Perut yang Lapar

Mendekati 17 April 2019 suasana politik makin seru dan gurih seperti makan bakwan ditengah turunnya hujan.

Bagaimana tidak, hampir setiap hari media massa konvensional hingga media sosial menebarkan berbagai informasi seputar pilpres yang kian seru.

Benarkah?? (hmm…jangan-jangan perasaan saya saja)

Saling bantah dan tuduh. Saling meminta bukti dan beradu gagasan, menjadi kosakata yang hampir tak pernah absen dari telinga kita hingga hari ini.

Ibarat pesta, pemilu ialah pesta politik alias pesta demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan akan kembali ke rakyat.

Namun, bukan berarti pesta itu tidak ada ancaman bahayanya. Ibaratnya anda sedang menyelenggarakan sebuah pesta.

Anda pasti berpikir bahwa pesta memiliki resiko, entah digerebek polisi, mati lampu, perkelahian atau hal-hal buruk lainnya.

Mirip dengan hal tersebut. Pesta demokrasi April 2019 inipun tak luput dari bahaya dan ancaman tersebut.

Apa saja isu pemilu dan turunannya yang berbahaya bagi Negara ini?

Pertama, isu agama. Isu agama adalah faktor yang berbahaya jika pada kondisi tertentu isu ini tidak diredam ke masyarakat.

Gesekan demi gesekan akan dengan mudah menyulut api kemarahan atas nama agama.

Indonesia memiliki preseden konflik yang mengatasnamakan agama. Korban jiwa akibat perang agama tercatat mencapai ribuan.

Di momentum politik 2019 ini, upaya dan usaha dari berbagai kelompok dan oknum untuk kembali menggunakan cara-cara biadab itu, nampaknya mulai terasakan.

Karena itu, agama harus ditempatkan pada porsi yang terbaik dalam kontestasi pilpres 2019 ini. Salah menaruh agama, bisa “bubar” ini Negara. Begitu kira-kira.

Kedua, keringnya visi-misi kenegaraan. Bumbu yang paling mengerikan selanjutnya ialah, betapa Indonesia tidak atau belum memiliki tokoh kenegaraan yang memiliki visi-misi Indonesia di masa mendatang.

Kita baru memiliki tokoh kekuasaan yang berpikir lima tahunan.

Setelah lima tahun selesai, pikiran selanjutnya ialah mempertahankan kekuasaan, begitu seterusnya.

Singkatnya, kita kering negarawan, tapi tsunami politisi penghamba kekuasaan.

Maka tidak heran jika kualitas demokrasi Indonesia belum dapat menunjukkan perkembangan signifikan selain hanya “kecanggihan infrastruktur” politiknya.

Ketiga, perekonomian stagnan. Imbas daripada stagnasi ekonomi Indonesia secara makro ialah, menurunnya daya beli masyarakat akibat kelesuaan ekonomi.

Isu ekonomi dapat berbahaya manakala isu ini dimainkan dengan menggunakan dalil-dalil kebencian & provokasi yang massif.

Kemiskinan erat sekali dengan kekerasan. Karena itu wajar jika orang yang berada dalam kondisi ekonomi sulit sering diketemukan mengambil jalan pintas melakukan bunuh diri.

Faktor ekonomi adalah pemicunya. Karenanya, kesejahteraan ekonomi menjadi penting karena letak kekuataan sebuah bangsa bertumpu pada perekonomiaannya.

Bukan semata-mata pada pembangunan infrastruktur. Karena itu, penting untuk negara hadir ke masyarakatnya melalui program ekonomi yang bertujuan mensejahterakan warga negaranya alias “mengenyangkan perut rakyat”.

harga kebutuhan pokok yang meninggi selama ini merupakan indikator bagaimana perekonomiaan dikelola oleh Negara Indonesia.

Sejahtera atau tidaknya sebuah bangsa atau rakyatnya, dapat diukur secara sederhana dengan “kenyangnya perut” seluruh warga negaranya. Bukan dengan panjangnya jalan yang dibangun.

Nah, ketiga bumbu ini tentu dapat anda perpanjang daftarnya. Jika perlu lengkap dengan bukti-buktinya.

isu Agama, Visi kenegaraan serta ekonomi rakyat, merupakan rangkuman dari berbagai aspek yang digoreng oleh tim sukses kedua belah pihak sekaligus persoalan bangsa yang harus dicarikan solusinya agar Indonesia tidak masuk kejurang barbarian.

Untuk menghindari itu maka diperlukan kematangann politik dari masing-masing pihak, termasuk dalam hal ini aparatus negara yang netral menghadapi pesta demokrasi.

Sebab berbagai bentuk keberpihakan aparatus negara menimbulkan friksi yang akan melebarkan jurang antara pendukung. Akibatnya tentu saja, rakyat yang akan dikorbankan.

mengedepankan politik yang dewasa ditandai dengan hadirnya objektifitas dalam melihat, mengawasi serta melakukan tugas-tugasnya secara profesional sebagai abdi negara. bukan sebaliknya. Menjadi pemain politik.

Kita berharap netralitas ini dijaga sebagai isu yang juga penting dicamkan.

diatas itu semua, partisipasi yang tinggi pada pemilu April nanti juga harus diperhatikan.

Dengan memberikan suara anda pada 17 April 2019 nanti itu artinya anda mencintai negara ini dan tidak ingin negara dan bangsa kalah oleh isu-isu diatas.

Mari buktikan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang siap menjadi pemain di dunia global. Semoga*

LEAVE A REPLY