Ketua Umum HMI Cabang Masohi Desak Polisi Penjarakan Bos PT Nusa Ina

Ketua Umum HMI Cabang Masohi Desak Polisi Penjarakan Bos PT Nusa Ina

0
0
BERBAGI

OKENEWS.COM, Masohi (Maluku) – Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Masohi, mendesak Polisi menangkap dan memenjarakan Bos PT Nusa Ina, Sihar Sitorus. desakan tegas ini menyusul sejumlah masalah yang ditimbulkan oleh PT Nusa Ina di wilayah kabupaten Maluku Tengah, (Malteng) karena dugaan kerusakan lingkungan dan penyerobotan lahan masyarakat adat hingga belum dibayarnya Perjanjian bagi hasil panen 30 persen kepada masyarakat adat yang menjadi mitra PT Nusa Ina.

Ketua Umum HMI Cabang Masohi Hermansyah Toyo pihaknya mendesak Aparat Hukum setempat agar Bos PT Nusa Ina Sihar Sitorus sudah harus ditangkap dan dipenjarakan. Menurutnya Kerusakan lingkungan dan berbagai pelanggaran hingga dugaan penyerobotan lahan serta yang terutama pembohongan masyarakat dengan belum dibayarkannya komitmen bagi hasil panen 30 % bagi masyarakat pemilik lahan atau mitra PT Nusa Ina sudah bisa dijadikan alasan hukum untuk menangkap yang berangkutan hal ini disampaikan pada awak media. Rabu (10/04/2019)

Hermansyah Toyo mengatakan, PT Nusa Ina diduga telah melakukan pembohongan publik dan penipuan terhadap masyarakat seram utara raya.

“Pasalnya bagi hasil panen 30 % kepada pemilik lahan sebagaimana yang disepakati dihadapan Notaris tidak dilakukan sampai sekarang. Selain itu PT Nusa ina juga diduga telah melanggar PP 38 pasal 11 tentang sungai, bahkan PT Nusa Ina juga diduga kuat ada di belakang kebakaran hutan dan lahan tahun 2016 dan 2017 lalu,” ujar Toyo

Lebih lanjut toyo mempersoalkan yang ditimbulkan oleh aktivitas PT Nusa Ina sudah sangat menyengsarakan masyarakat pemilik lahan yang bermitra dengan PT Nusa ina.

“Tak hanya itu dampak aktivitas PT Nusa yang beroperasi di atas lahan 3000 hektar di kecamatan Seram Utara Barat dan 30.000 hektar di wilayah seram utara timur seti, kobi bahkan sampai ke wilayah Maneo (pengunungan Seram Utara) di duga kuat mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sudah berada pada titik kritis,” tutur Toyo

Sampai sekarang tercatat telah terjadi 18 kali banjir selama januari hingga April 2019. Karena itulah Pihaknya mendesak agar aktivitas PT Nusa Ina tersebut diberhentikan, sudah masuk pada tahapan berbahaya bukan hanya di Maluku, namun bisa jadi di Indonesia.

“Bulan januari sudah 9 kali banjir berturut turut. februari 4 kali banjir, maret 2 kali banjir,memasuki awal April sudah 3 kali. Maka PT Nusa Ina sudah sangat wajar dikategorikan Perusahan berbahaya di maluku dan Indonesia. Sebab kami menduga PT Nusa Ina juga telah melakukan pelanggaran Ketentuan PP nomor 38 tahun 2011 pasal 10 tentang sungai,” Pungkasnya (Awd)

LEAVE A REPLY