Gagasan Rekonsiliasi Dalam Wadah Organisasi

Gagasan Rekonsiliasi Dalam Wadah Organisasi

0
0
BERBAGI

OPINI – Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata rekonsiliasi memiliki makna perbuatan memulihkan hubungan untuk menyelesaikan perbedaan. Latarbelakang lahirnya gagasan rekonsiliasi biasanya berangkat dari keresahan-keresahan oleh pihak yang sedang berproses dalam wadah organisasi tersebut. Mereka melihat kondisi organisasi yang penuh perselisihan dan merasa bahwa perpecahan dan perselisihn hanya membawa kerugian di dalam organisasi. Sehingga perlu adanya persatuan dan kesatuan.

Rekonsiliasi di dalam wadah organisasi merupakan suatu paradigma yang dibangun atas dasar penyatuan pada suatu kelompok se-ideologi yang sedang mengalami perpecahan oleh berbagai faktor-faktor. Berbagai macam faktor timbulnya perpecahan diantaranya yaitu perbedaan pandangan pemikiraan, politik, dan orientasi organisasi.

Perbedaan politik adalah faktor yang paling dominan untuk terjadinya perpecahan terutama soal perebutan kekuasaan. Suatu kelompok atau organisasi ketika memasuki fase kontestasi politik sebagian besar terbagi pada dua kubu. Dua kubu ini masing-masing sudah mengetahui bahwa yang menjadi pemimpin atau ketua hanyalah satu orang, sehingga ambisi mereka pun sama-sama besar.

Kita sering mengenal dengan istilah Liddle’s Law atau dikenal dengan hukum liddle. Seorang Profesor asal Amerika William Liddle melakukan kajian penelitian Perilaku Pemilu. Dia memberikan kesimpulan bahwa tidak akan ada banyak waktu dan biaya yang begitu besar untuk ikut kontestasi jika dia tahu bahwa pada akhirnya dia akan kalah. Karena itu, kubu yang kecil akan bergabung pada kubu besar yang memiliki kedekatan aspirasi. Penggabungan ini akan berjalan sedemikian rupa sehingga pada ujungnya yang bertarung hanyalah dua kubu besar. Jika dua kubu besar berdasarkan garis primordial mendominasi arena politik, yang akan terjadi di masa depan adalah rangkaian kerusuhan yang di motori oleh kaum fanatik.

Kejadian kerusuhan akan berbahaya pada oraganisasi perkaderan, para anggota organisasi akan mengkotakan kubu-kubu secara sendirinya, ketika dia merasa bahwa dia bukan bagian dari mereka, dia akan menyisih sendiri bersama kubunya. Hal ini tentu tidak baik, proses pembelajaran berorganisasi akan terhalang oleh hal seperti ini. Miris memang melihat organisasi yang penuh perselisahan, pertarungan, dan bahkan kebencian.

Rekonsiliasi inilah jalan untuk terwujudnya organisasi yang seimbang. Dalam bukunya Nurkholis Madjid yang biasa disapa Cak Nur Islam Doktrin dan Peradaban menyatakan bahwa manusia untuk memperbesar kekuatan harus bekerja sama dan manusia untuk memperkecil kelemahannya harus bekerja sama. Cak Nur menginginkan bahwa manusia dan manusia lainya harus saling bekerja sama, ketika ada permasalahan harus segera diselesaikan secara bersama, menemukan solusi yang dapat diterima oleh semua pihak.

Sebagai bagian dari anggota organisasi, ketika dihadapkan pada gesekan-gesekan sepatutnya anggota organisasi saliang merangkul satu dengan yang lainnya. Jangan sampai ketika merasa tersakiti malah melakukan hal yang sama apa yang telah mereka lakukan.

Gandhi mengatakan, apabila kekerasan dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kebencian dan melahirkan bibit-bibit permusahan baru. Gandhi mengajarkan kita bahwa pentingnya memperjuangkan sesuatu berdasarkan kebenaran. Lebih lanjut, perjuangan itu juga harus berada di jalan yang benar dan bermoral.

Sebagai bagian dari orang yang berorganisasi kita patut medewaskan diri, tidak egosentri pada kepentingan individu atau kelompoknya. Sehingga terwujudnya organisasi yang ideal.

Penulis adalah, Ketua FK2i (HUMAENI RIZKY)

LEAVE A REPLY